Sunday, December 1, 2013

Kakankemenag Flotim Pantau Langsung Lokasi Kerusuhan Di Kecamatan Solor Timur Flotim


Larantuka (Inmas). Minggu, 10 November 2013 – Setelah terus melakukan koordinasi dengan semua pihak baik Kepala KUA Kecamatan Solor Timur Kab. Flotim, Kepala MTs.N Lohayong, Pihak Kepolisian, Camat Solor Timur, Ketua FKUB Kab. Flores Timur, Guru Agama Katolik serta tokoh umat baik dari Muslim maupun Katolik pada saat dan pasca kejadian kerusuhan antar dua kampung di Kecamatan Solor Timur yakni Desa Lohayong II dan Desa Wulublolong, Jumad, 08/11 Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Petrus Pedo Beke, S.Ag turun memantau langsung kondisi terakhir di dua wilayah konflik tersebut. Tepat jam 06.00 pagi rombongan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Flotim yang terdiri dari Kepala Seksi Urakat, Aloysius Bebe Aran, Kepala Seksi Pendidikan Islam Drs. H. Ibrahim Arif, Staf Inmas Kemenag Flotim, Petrus Wai Leton, S.Sos bersama Abuyajid Damanhuri dan Agustinus Joseph Pello berangkat dari Pelabuhan Larantuka menggunakan Kapal Motor menuju Desa Lohayong II. Sebelum memantau segala kerusakan di dua wilayah tersebut, Kepala Kantor menyelenggarakan pertemuan dengan jajaran Pendidikan Islam, tokoh umat dan tokoh masyarakat di Desa Lohayong dengan tujuan untuk memberi motivasi dan peneguhan serta kekuatan kepada masayarakat dan menghimbau agar masyarakat umum dan jajaran pendidikan untuk hidup tenang dan aman serta tidak terprovokasi dengan keadaan ini. “Misi kerukunan menjadi tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan komunitas madarasah, dan pembinaan kerukunan menjadi tanggung jawab Kementarian Agama. Olehnya kepada segenap masyarakat umat beragama untuk tetap menjaga keharmonisan dan ikut bertanggung jawab dalam menghadapi krisis ini”, katanya. Di hadapan para guru Madarasah dan tokoh umat yang hadir beliau mengharapkan agar secara bersama memberi pemahaman kepada masyarakat luas agar tidak menimbulkan rasa benci dan dendam. Sehingga para guru harus menjadi contoh dalam sikap dan perbuatan di tengah masyarakat sesuai pesan-pesan suci Al’Quran untuk perdamaian karena semua kita bersaudara dalam suasana keharmonisan. Beliau juga menekankan tentang pentingnya FKUB serta visi dan misi Kementerian Agama dalam membina kerukunan umat beragama di wilayah ini dalam setiap kesempatan yang sudah dibangun bersama dalam berbagai dialog yang sudah dilakukan menjadi keharusan kita untuk menjaga situasi aman, damai dan rukun. Selanjutnya Bapak Pet memantau segala kerusakan di desa Lohayong dan dilanjutkan ke desa Wulublolong. Di desa ini beliau menyempatkan diri untuk bertemu dengan para korban yang ditampung di Gereja Stasi Wulublolong, Ketua Dewan Stasi dan Kepala Desa Wulublolong. Kepada korban dan masyarakat di desa tersebut, beliau menghimbau dan mengharapkan untuk senantiasa menjaga situasi yang aman dan damai. “kita jangan mudah terprovokasi dengan tindakan dan isu yang dibuat oleh orang lain. Mari kita bersabar dan selalu berdoa sehingga masa-masa sulit ini segera berlalu dan kita kembali kepada kehidupan yang aman dan damai dengan sesama saudara kita”, katanya memberi semangat. Beliau juga menyempatkan diri untuk bertemu Kepala Desa Wulublolong di Kantor Desa serta memberi penghormatan dan berdoa di atas makam tiga korban jiwa yang meninggal dunia yang sudah dikebumikan pada hari Rabu (06/11/2013). Dari hasil pantauan tersebut berhasil mendapatkan informasi riil tentang kerusakan dan korban dalam kerusuhan yang terjadi pada tanggal 04 dan 05 Nopember 2013 yakni : terdapat 124 buah rumah di Desa Wulublolong dan 17 rumah di Desa Lohayong terbakar. Dalam peristiwa tersebut tidak satu pun bangunan umum berupa rumah ibadah maupun sekolah yang dibakar, termasuk Mushallah Al-Furgan di Dusun I Kebang Desa Lohayong II. Dari data kerusakan tersebut terdapat satu unit rumah milik guru MIN Lohayong atas nama Kasim Doni dan beberapa rumah siswa/i MIN Lohayong ( 25 siswa) dan MA Gewayantanah Lohayong (3 siswa) baik yang berdomisili di Desa Lohayong maupun di Desa Wulublolong. Sedangkan korban meninggal dunia ada (tiga) orang satu laki-laki dan dua perempuan dari Desa Wulublolong. Sementara korban luka ada 6 orang dari Desa Lohayong II dan 5 orang dari Desa Wulublolong. Untuk diketahui peristiwa kerusuhan yang terjadi di Kecamatan Solor Timur berawal dari pengambilan batu di lokasi tanah yang rencananya dibangun “Pesantren” oleh salah satu oknum dari masyarakat Desa Wulublolong kemudian ditegur oleh oknum masyarakat Desa Lohayong II yang terjadi pada hari Senin, 04 Nopember 2013 pagi sehingga terjadi pertengkaran kemudian difasilitasi oleh pihak keamanan dan sudah berdamai. Namun di sore harinya sekitar pukul 15.30 terjadi penyerangan kembali oleh masyarakat Desa Wulublolong ke Desa Lohayong II (Dusun I Kebang) dan membakar dua rumah kemudian langsung ditangani oleh pihak keamanan di lokasi kejadian. Pada hari Selasa tanggal 05 Nopember 2013 sekitar Pukul 06.30 saat pihak keamanan kembali ke Posko ( Kantor Polsek Menanga Kecamatan Solor Timur), tiba-tiba terjadi serangan oleh masyarakat Desa Wulublolong dan membakar 17 (tujuh belas) rumah yang berada di Dusun I (Kebang) Desa Lohayong II. Setelah itu saling serang dan membakarpun terjadi sehingga mengakibatkan 124 rumah warga Desa Wulublolong terbakar serta korban jiwa dan korban luka. (***peter) www.kemenag.go.id

No comments:

Post a Comment