Solor, Terancam Gagal Panen | SERGAP NTT [Media Revolusi]
Semoga hujan cepat turun untuk memberikan kesegaran bagi tanaman yang menjadi sandaran hidup masyarakat kami.
PULAU SOLOR: FLORES TIMUR
Friday, March 7, 2014
Sunday, December 1, 2013
Forum Komunitas Adat Bantu Atasi Konflik
Forum Komunitas Adat Bantu Atasi Konflik
LARANTUKA, FBC:Konflik lahan dalam masyarakat Flores Timur baik yang berhubungan dengan batas tanah, ataupun kepemilikan kini terus menyebar di sejumlah kampung. Konflik semacam ini seringkali terjadi karena nilai-nilai budaya dan kearifan-kearifan masyarakat adat telah luntur dan terkikis dari hari ke hari. Demikian juga persatuan dan kesaatuan dalam masyarakat perlahan mulai dikesampingkan.
Demikian salah satu point pandangan Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang disampaikan camat Kelubagolit Yos Dasi Bumi di desa Kelu Wain mewakili Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, pada pembukaan seminar dan sosialisasi pembentukan Komunitas Masyarakat Adat di desa Kelu Wain, Kecamatan Klubagolit, Adonara, Kamis 07 November 2013.
Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Flores Timur, dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan para kepala Desa se-kecamatan Kelubagolit.
Kesbangpol Flores Timur dalam laporannya mengatakan, tokoh adat punya peranan yang sangat penting dalam seluruh pembangunan. Karena itu Pemda Flores Timur memandang strategis memfasilitasi terbentuknya forum komunitas adat.
Sekretaris Kesbangpol Kabupaten Flotim ibu Ati Gedeona, SH mengakui, hingga saat ini telah terbentuk 11 forum komunitas adat di 11 kecamatan dari 19 kecamatan yang direncanakan.
Identitas Lamaholot
Bernard Tukan, salah satu pembicara dalam seminar itu menegaskan, nilai-nilai budaya atau kearifan lokal penting dihidupkan kembali untuk menegaskan identitas masyarakat Lamaholot sebagai warga negara Indonesia.
Menurutunya nilai-nilai itu memberi inspirasi, motivasi dan animasi bahkan legitimasi atas kebijakan dan program pembangunan terkhusus di desa-desa di mana komunitas adat berada.
“Terhadap tuntutan semacam ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur perlu terus melakukan revitalisasi dan refungsionalisasi peran lembaga adat melalui upaya-upaya pemberdayaan oleh pemerintah kabupaten Flores Timur,”katanya.
Sebelumnya kepada FBC di Larantuka 06 November dalam kapasitas sebagai Sekretaris Forum Kerukunan antar Umat Beragama kabupaten Flores Timur ia mengingatkan pemerintah Flores Timur untuk tidak hanya bersifat responsif terhadap konflik-konflik yang terjadi karena masalah tanah, tetapi perlu melakukan pencegahan agar konflik tidak terjadi.
“Potensi-potensi konflik di beberapa titik telah ada. Karena itu pemda Flotim seharusnya lebih proaktif untuk melakukan pencegahan-pencegahan ketimbang konflik pecah baru melakukan tindakan,” ujarnya.
Membantu Pemerintahan Desa
Thomas Lewo, tokoh adat dari Hinga memberi catatan bahwa pembentukan lembaga adat sudah pernah dilakukan sebelumnya di berbagai tempat oleh bupati Felix Fernandez namun tidak bertahan karena motif dukungan politik sangat kuat melatarinya. “Karena itu, semuanya hilang tak berbekas,” ujarnya.
Dari kiri ke kanan, Ati Gedeona, SH, Bernard Tukan dan Yos Dasi Bumi (Foto : FBC/Melky Koli Baran)
Ia menilai, upaya-upaya yang dilakukan bupati Simon Hayon selanjutnya mulai kelihatan ada manfaatnya. Karena itu, pihaknya berpendapat bahwa pembentukan komunitas adat ini akan sangat membantu pemerintah di desa untuk memperkuat nilai-nilai adat dan budaya masyarakat.
Ester, seorang tokoh perempuan yang hadir dalam acara ini menyoroti kewibawaan lembaga pemangku adat bentukan pemerintah yang menurutnya kurang efektif mengendalikan ketertiban di komunitas-komunitas.
Ester mengemukakan realitas konflik di kecamatan itu yang tidak lepas dari sumbangan generasi muda. Menurutnya, kekacauan di komunitas-komunitas sering terjadi karena diprovokasi oleh anak-anak muda. “Mereka ini adalah salah satu kelompok strategis yang perlu pemberdayaan oleh forum komunitas adat yang akan dibentuk ini. Masalahnya, anak-anak muda sudah kurang membatinkan nilai-nilai dan budi adat Lamaholot,” katanya.
Camat Kelubagolit Yos Dasi Bumi beberapa kali dalam pembicaraannya sebagai Camat maupun mewakili bupati mengakui di kecamatan ini sering terjadi konflik. Bahkan konflik besar dan berdarah juga pernah terjadi di kecamatan ini beberapa waktu berlalu. Tanpa menyebutkan desa mana yang berkonflik, namun semua tahu bahwa Adobala dan Redontena adalah dua kampung di kecamatan ini yang berkonflik secara terbuka beberapa waktu lalu.
Memaknai sosialisasi ini, Kadar Jafar dari desa Horinara mengatakan, Forum Komunitas Adat tingkat kecamatan boleh dan perlu dibentuk. Namun kata dia, kultur dan struktur budaya di komunitas sudah baku. Karena itu mesti dilihat model pemberdayaan seperti apa yang perlu dilakukan agar semakin memperkuat apa yang telah ada.
Kata Kadar Jafar, jika pada masa pemerintahan Orde Baru terus dilakukan penjinakan terhadap elemen-elemen masyarakat sipil termasuk komunitas adat, maka saat ini yang diperlukan adalah dukungan untuk pemberdayaan.
Hal serupa disampaikan Elias Ola dari Horinara. Menurutnya, Lembaga dan pemangku-pemangku adat telah ada di desa hanya saja tidak diberikan ruang dalam penguatan masyarakat dan penyelesaian sengketa. Karena itu, dia mengharapkan forum yang dibentuk ini harus berperan memberdayakan potensi yang telah ada di desa-desa. (Melky Koli Baran)
Related Posts:
100 Rumah di Matim akan Dibedah
Petani Flores Miliki Semangat Belajar dan Kemauan Bekerja…
Forum Satu Lamaholot Tolak Usulan DOB Adonara
Warga Keluhkan Harga Minyak Tanah
Sambut Sail Komodo, Matim Kesulitan Jaringan Telkomsel
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/forum-komunitas-adat-bantu-atasi-konflik/#sthash.cn0GgQYY.KPgY99M1.dpuf
LARANTUKA, FBC:Konflik lahan dalam masyarakat Flores Timur baik yang berhubungan dengan batas tanah, ataupun kepemilikan kini terus menyebar di sejumlah kampung. Konflik semacam ini seringkali terjadi karena nilai-nilai budaya dan kearifan-kearifan masyarakat adat telah luntur dan terkikis dari hari ke hari. Demikian juga persatuan dan kesaatuan dalam masyarakat perlahan mulai dikesampingkan.
Demikian salah satu point pandangan Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang disampaikan camat Kelubagolit Yos Dasi Bumi di desa Kelu Wain mewakili Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, pada pembukaan seminar dan sosialisasi pembentukan Komunitas Masyarakat Adat di desa Kelu Wain, Kecamatan Klubagolit, Adonara, Kamis 07 November 2013.
Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Flores Timur, dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan para kepala Desa se-kecamatan Kelubagolit.
Kesbangpol Flores Timur dalam laporannya mengatakan, tokoh adat punya peranan yang sangat penting dalam seluruh pembangunan. Karena itu Pemda Flores Timur memandang strategis memfasilitasi terbentuknya forum komunitas adat.
Sekretaris Kesbangpol Kabupaten Flotim ibu Ati Gedeona, SH mengakui, hingga saat ini telah terbentuk 11 forum komunitas adat di 11 kecamatan dari 19 kecamatan yang direncanakan.
Identitas Lamaholot
Bernard Tukan, salah satu pembicara dalam seminar itu menegaskan, nilai-nilai budaya atau kearifan lokal penting dihidupkan kembali untuk menegaskan identitas masyarakat Lamaholot sebagai warga negara Indonesia.
Menurutunya nilai-nilai itu memberi inspirasi, motivasi dan animasi bahkan legitimasi atas kebijakan dan program pembangunan terkhusus di desa-desa di mana komunitas adat berada.
“Terhadap tuntutan semacam ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur perlu terus melakukan revitalisasi dan refungsionalisasi peran lembaga adat melalui upaya-upaya pemberdayaan oleh pemerintah kabupaten Flores Timur,”katanya.
Sebelumnya kepada FBC di Larantuka 06 November dalam kapasitas sebagai Sekretaris Forum Kerukunan antar Umat Beragama kabupaten Flores Timur ia mengingatkan pemerintah Flores Timur untuk tidak hanya bersifat responsif terhadap konflik-konflik yang terjadi karena masalah tanah, tetapi perlu melakukan pencegahan agar konflik tidak terjadi.
“Potensi-potensi konflik di beberapa titik telah ada. Karena itu pemda Flotim seharusnya lebih proaktif untuk melakukan pencegahan-pencegahan ketimbang konflik pecah baru melakukan tindakan,” ujarnya.
Membantu Pemerintahan Desa
Thomas Lewo, tokoh adat dari Hinga memberi catatan bahwa pembentukan lembaga adat sudah pernah dilakukan sebelumnya di berbagai tempat oleh bupati Felix Fernandez namun tidak bertahan karena motif dukungan politik sangat kuat melatarinya. “Karena itu, semuanya hilang tak berbekas,” ujarnya.
Dari kiri ke kanan, Ati Gedeona, SH, Bernard Tukan dan Yos Dasi Bumi (Foto : FBC/Melky Koli Baran)
Ia menilai, upaya-upaya yang dilakukan bupati Simon Hayon selanjutnya mulai kelihatan ada manfaatnya. Karena itu, pihaknya berpendapat bahwa pembentukan komunitas adat ini akan sangat membantu pemerintah di desa untuk memperkuat nilai-nilai adat dan budaya masyarakat.
Ester, seorang tokoh perempuan yang hadir dalam acara ini menyoroti kewibawaan lembaga pemangku adat bentukan pemerintah yang menurutnya kurang efektif mengendalikan ketertiban di komunitas-komunitas.
Ester mengemukakan realitas konflik di kecamatan itu yang tidak lepas dari sumbangan generasi muda. Menurutnya, kekacauan di komunitas-komunitas sering terjadi karena diprovokasi oleh anak-anak muda. “Mereka ini adalah salah satu kelompok strategis yang perlu pemberdayaan oleh forum komunitas adat yang akan dibentuk ini. Masalahnya, anak-anak muda sudah kurang membatinkan nilai-nilai dan budi adat Lamaholot,” katanya.
Camat Kelubagolit Yos Dasi Bumi beberapa kali dalam pembicaraannya sebagai Camat maupun mewakili bupati mengakui di kecamatan ini sering terjadi konflik. Bahkan konflik besar dan berdarah juga pernah terjadi di kecamatan ini beberapa waktu berlalu. Tanpa menyebutkan desa mana yang berkonflik, namun semua tahu bahwa Adobala dan Redontena adalah dua kampung di kecamatan ini yang berkonflik secara terbuka beberapa waktu lalu.
Memaknai sosialisasi ini, Kadar Jafar dari desa Horinara mengatakan, Forum Komunitas Adat tingkat kecamatan boleh dan perlu dibentuk. Namun kata dia, kultur dan struktur budaya di komunitas sudah baku. Karena itu mesti dilihat model pemberdayaan seperti apa yang perlu dilakukan agar semakin memperkuat apa yang telah ada.
Kata Kadar Jafar, jika pada masa pemerintahan Orde Baru terus dilakukan penjinakan terhadap elemen-elemen masyarakat sipil termasuk komunitas adat, maka saat ini yang diperlukan adalah dukungan untuk pemberdayaan.
Hal serupa disampaikan Elias Ola dari Horinara. Menurutnya, Lembaga dan pemangku-pemangku adat telah ada di desa hanya saja tidak diberikan ruang dalam penguatan masyarakat dan penyelesaian sengketa. Karena itu, dia mengharapkan forum yang dibentuk ini harus berperan memberdayakan potensi yang telah ada di desa-desa. (Melky Koli Baran)
Related Posts:
100 Rumah di Matim akan Dibedah
Petani Flores Miliki Semangat Belajar dan Kemauan Bekerja…
Forum Satu Lamaholot Tolak Usulan DOB Adonara
Warga Keluhkan Harga Minyak Tanah
Sambut Sail Komodo, Matim Kesulitan Jaringan Telkomsel
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/forum-komunitas-adat-bantu-atasi-konflik/#sthash.cn0GgQYY.KPgY99M1.dpuf
Salestinus : Konflik Lahan, Pemerintah Dinilai Gagal
Konflik Solor Harus Segera Diselesaikan
Konflik Solor Harus Segera Diselesaikan
KUPANG. FBC- Tokoh masyarakat Solor di Kupang, Syamsu Bahrini mengaku kaget mengetahui ada bentrok antara warga desa Wulublolong dan Lohayong hingga mengakibatkan tiga korban jiwa. Karena itu dia berharap semua pihak di Solor khususnya dan Flores Timur umumnya harus segera menyelesaikan masalah ini dengan arif dan bijaksana.
Syamsu: Semua Tokoh Lokal harus segera duduk bersama. (Foto: FBC: Bonne Pukan)
“Kita di Solor itu sangat akrab dari dulu sampai sekarang, Tapi kok tiba-tiba ada bentrokan itu. Kawin-mawin, persaudaraan dan kekerabatan di Solor itu sangat bagus dan terjalin selama ini tanpa membedakan suku, agama dan ras. Kita selalu hidup damai. Masalah seperti yang terjadi pada Selasa (5/11) kemarin itu tidak perlu terjadi,” kata Syamsu kepada FBC di Kupang, Jumat (8/11).
Samsu kelahiran Lohayong dan telah purna tugas di Undana Kupang namun masih menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Kupang ini mengatakan, sejak dahulu masyarakat kedua desa ini hidup rukun dan damai,
“Selama ini masyarakat kami disana sangat rukun, tetapi mengapa harus terjadi masalah yang mengorbankan tiga jiwa itu. Saya minta semua pihak di Solor untuk duduk bersama membicarakan masalah ini. Tokoh masyarakat, tokoh adat dan seluruh pemangku kepentingan disana harus secepatnya membicarakan masalah ini agar tidak berlanjut,” harapnya.
Dia menyatakan salut atas kesigapan pemerintah Kabupaten dan Provinsi yang langsung menuju lokasi untuk meredam konflik itu. Pihak keamanan juga sudah berada di lokasi sesaat setelah kejadian itu.
Menurutnya kehadiran Wakil Bupati, Valens Tukan ke Lokasi pada hari Rabu (6/11) kemudian disusul dengan kehadiran Gubernur bersama Kapolda dan Danrem Kupang pada Kamis (7/11) itu telah memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di dua desa tersebut.
“Saya berharap, setelah kehadiran para petinggi daerah ini, tokoh-tokoh lokal harus menindaklanjutinya dengan pertemuan untuk mendekatkan kedua kelompok yang bertikai itu. Saya berharap masyarakat di kedua desa itu kembali hidup rukun dan damai seperti sebelumnya.
Untuk diketahui, bentork yang terjadi di Solor Timur itu mengakibatkan tiga korban jiwa yakni Yoseph Silo Wotan (70), Petronela Ina Koten (80) dan Theresia Barek (70). Pihak keamanan juga sudah diterjunkan ke lokasi bentrok sebanyak 203 orang terdiri dari personil Polri sebanyak 99 orang, Brimob sebanyak 78 orang dan TNI sebanyak 26 orang.
Menurut Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede, SH. MH, suasana di kedua desa itu sudah kondusif dan akan tetap terjaga. (Bonne Pukan)
Related Posts:
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/konflik-solor-harus-segera-diselesaikan/#sthash.ITyIXC0n.VUeo9rSr.dpuf
KUPANG. FBC- Tokoh masyarakat Solor di Kupang, Syamsu Bahrini mengaku kaget mengetahui ada bentrok antara warga desa Wulublolong dan Lohayong hingga mengakibatkan tiga korban jiwa. Karena itu dia berharap semua pihak di Solor khususnya dan Flores Timur umumnya harus segera menyelesaikan masalah ini dengan arif dan bijaksana.
Syamsu: Semua Tokoh Lokal harus segera duduk bersama. (Foto: FBC: Bonne Pukan)
“Kita di Solor itu sangat akrab dari dulu sampai sekarang, Tapi kok tiba-tiba ada bentrokan itu. Kawin-mawin, persaudaraan dan kekerabatan di Solor itu sangat bagus dan terjalin selama ini tanpa membedakan suku, agama dan ras. Kita selalu hidup damai. Masalah seperti yang terjadi pada Selasa (5/11) kemarin itu tidak perlu terjadi,” kata Syamsu kepada FBC di Kupang, Jumat (8/11).
Samsu kelahiran Lohayong dan telah purna tugas di Undana Kupang namun masih menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Kupang ini mengatakan, sejak dahulu masyarakat kedua desa ini hidup rukun dan damai,
“Selama ini masyarakat kami disana sangat rukun, tetapi mengapa harus terjadi masalah yang mengorbankan tiga jiwa itu. Saya minta semua pihak di Solor untuk duduk bersama membicarakan masalah ini. Tokoh masyarakat, tokoh adat dan seluruh pemangku kepentingan disana harus secepatnya membicarakan masalah ini agar tidak berlanjut,” harapnya.
Dia menyatakan salut atas kesigapan pemerintah Kabupaten dan Provinsi yang langsung menuju lokasi untuk meredam konflik itu. Pihak keamanan juga sudah berada di lokasi sesaat setelah kejadian itu.
Menurutnya kehadiran Wakil Bupati, Valens Tukan ke Lokasi pada hari Rabu (6/11) kemudian disusul dengan kehadiran Gubernur bersama Kapolda dan Danrem Kupang pada Kamis (7/11) itu telah memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di dua desa tersebut.
“Saya berharap, setelah kehadiran para petinggi daerah ini, tokoh-tokoh lokal harus menindaklanjutinya dengan pertemuan untuk mendekatkan kedua kelompok yang bertikai itu. Saya berharap masyarakat di kedua desa itu kembali hidup rukun dan damai seperti sebelumnya.
Untuk diketahui, bentork yang terjadi di Solor Timur itu mengakibatkan tiga korban jiwa yakni Yoseph Silo Wotan (70), Petronela Ina Koten (80) dan Theresia Barek (70). Pihak keamanan juga sudah diterjunkan ke lokasi bentrok sebanyak 203 orang terdiri dari personil Polri sebanyak 99 orang, Brimob sebanyak 78 orang dan TNI sebanyak 26 orang.
Menurut Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede, SH. MH, suasana di kedua desa itu sudah kondusif dan akan tetap terjaga. (Bonne Pukan)
Related Posts:
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/konflik-solor-harus-segera-diselesaikan/#sthash.ITyIXC0n.VUeo9rSr.dpuf
Situasi Berangsur Aman Pasca Bentrokan Warga Solor
Situasi Berangsur Aman Pasca Bentrokan Warga Solor
LARANTUKA, FBC- Situasi berangsur aman, pasca bentrokan antara warga dua desa yakni desa Wulublolong dan desa Lohayong di kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur yang terjadi sejak Senin sore (4/11/2014).
Hal ini ditegaskan Kapolres Flotim AKBP Dewa Putu Gede Artha yang disampaikan Kasubag Humas Polres Flotim, Iptu Nyoman Supartha yang ditemui floresbangkit.com di kantor Polres Flotim, kelurahan Amagarapti, Larantuka, Rabu,(06/11/2013).
Menurut Nyoman, bentrokan terjadi akibat warga desa Wulublolong pada Senin (04/11/2013) pukul 15.30 wita, mengambil batu di lokasi sengketa di desa Lohayong. Hari Selasa (05/11/2013) bentrokan kembali terjadi siang hingga sore yang mengakibatkan 100 rumah warga Wulublolong dibakar dan 3 orang meninggal. 6 orang warga desa Lohayong luka terkena panah di kaki, tangan dan di bagian dada. Dalam bentrokan ini 3 sepeda motor ikut dibakar
Sebagaimana pemberitaan floresbangkit.com sebelumnya, dari tiga korban yang meninggal yakni, Petronela Ola Ina Koten (80 tahun), Theresia Barek (70 tahun ) dan Yosef Sinu wotan (70 tahun ).
Data yang diterima FBC dari Kasubag Humas menyebutkan 2 korban wanita warga desa Wulublolong yang meninggal karena terperangkap di dalam rumah yang dibakar dan seorang pria ketika mencoba menyelamatkan diri dari desanya. Ketiga korban hari ini dimakamkan.
Sementara 6 orang warga Lohayong yang menderita luka yakni, Hasan (42 tahun), Yani Ilyas (47 tahun), dan Lukman.S (42 tahun). Korban lainnya, Faisal Hamid (18 tahun), Ahrahman Muhammad (18 tahun) serta Hasbin Mustafa (24 tahun).
Buat Blokade
Nyoman Supartha menjelaskan, aparat keamanan sejak Senin (4/11/2013) sudah diturunkan ke lokasi konflik untuk mengamankan situasi. “Aparat melakukan antisipasi dengan membuat blokade di dua desa dan perbatasan dan juga di lokasi pengungsian di dusun satu desa Wulublolong, “ ujarnya.
Ditambahkan Nyoman, sejak Selasa (05/11/2013) pasukan dari Polres Flotim diterjunkan 1 SSK ditambah BKO dari Brimob Detasemen C Maumere sebanyak 40 personil.
Kantor Polres Flores Timur di keluharan Amagarapati,Larantuka. (Foto : Dokumentasi FBC)
Hari ini, Rabu (06/11/2013), kata Nyoman, juga ditambah BKO dari Brimob Detasemen B Ende sebanyak 34 personil dan 1 pleton tentara dari Kodim 1624 Flotim.
Nyoman menyebutkan, sejak kemarin Kapolres dan Wakapolres Flotim berada di lokasi konflik memimpin langsung pengamanan. “ Masyarakat sudah disuruh pulang ke desanya masing – masing.
Kapolres Flotim sebagaimana disampaikan Nyoman, menghimbau agar masyarakat jangan terpancing isu dan bisa menahan diri sehingga keamanan bisa terjamin.
“Semoga konflik segera berakhir sehingga aktivitas bisa berjalan seperti sedia kala,“ harap Nyoman. ( Ebed )
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/situasi-berangsur-aman-pasca-bentrokan-dua-desa-di-solor/#sthash.tRM8fzjR.dpuf
LARANTUKA, FBC- Situasi berangsur aman, pasca bentrokan antara warga dua desa yakni desa Wulublolong dan desa Lohayong di kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur yang terjadi sejak Senin sore (4/11/2014).
Hal ini ditegaskan Kapolres Flotim AKBP Dewa Putu Gede Artha yang disampaikan Kasubag Humas Polres Flotim, Iptu Nyoman Supartha yang ditemui floresbangkit.com di kantor Polres Flotim, kelurahan Amagarapti, Larantuka, Rabu,(06/11/2013).
Menurut Nyoman, bentrokan terjadi akibat warga desa Wulublolong pada Senin (04/11/2013) pukul 15.30 wita, mengambil batu di lokasi sengketa di desa Lohayong. Hari Selasa (05/11/2013) bentrokan kembali terjadi siang hingga sore yang mengakibatkan 100 rumah warga Wulublolong dibakar dan 3 orang meninggal. 6 orang warga desa Lohayong luka terkena panah di kaki, tangan dan di bagian dada. Dalam bentrokan ini 3 sepeda motor ikut dibakar
Sebagaimana pemberitaan floresbangkit.com sebelumnya, dari tiga korban yang meninggal yakni, Petronela Ola Ina Koten (80 tahun), Theresia Barek (70 tahun ) dan Yosef Sinu wotan (70 tahun ).
Data yang diterima FBC dari Kasubag Humas menyebutkan 2 korban wanita warga desa Wulublolong yang meninggal karena terperangkap di dalam rumah yang dibakar dan seorang pria ketika mencoba menyelamatkan diri dari desanya. Ketiga korban hari ini dimakamkan.
Sementara 6 orang warga Lohayong yang menderita luka yakni, Hasan (42 tahun), Yani Ilyas (47 tahun), dan Lukman.S (42 tahun). Korban lainnya, Faisal Hamid (18 tahun), Ahrahman Muhammad (18 tahun) serta Hasbin Mustafa (24 tahun).
Buat Blokade
Nyoman Supartha menjelaskan, aparat keamanan sejak Senin (4/11/2013) sudah diturunkan ke lokasi konflik untuk mengamankan situasi. “Aparat melakukan antisipasi dengan membuat blokade di dua desa dan perbatasan dan juga di lokasi pengungsian di dusun satu desa Wulublolong, “ ujarnya.
Ditambahkan Nyoman, sejak Selasa (05/11/2013) pasukan dari Polres Flotim diterjunkan 1 SSK ditambah BKO dari Brimob Detasemen C Maumere sebanyak 40 personil.
Kantor Polres Flores Timur di keluharan Amagarapati,Larantuka. (Foto : Dokumentasi FBC)
Hari ini, Rabu (06/11/2013), kata Nyoman, juga ditambah BKO dari Brimob Detasemen B Ende sebanyak 34 personil dan 1 pleton tentara dari Kodim 1624 Flotim.
Nyoman menyebutkan, sejak kemarin Kapolres dan Wakapolres Flotim berada di lokasi konflik memimpin langsung pengamanan. “ Masyarakat sudah disuruh pulang ke desanya masing – masing.
Kapolres Flotim sebagaimana disampaikan Nyoman, menghimbau agar masyarakat jangan terpancing isu dan bisa menahan diri sehingga keamanan bisa terjamin.
“Semoga konflik segera berakhir sehingga aktivitas bisa berjalan seperti sedia kala,“ harap Nyoman. ( Ebed )
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/situasi-berangsur-aman-pasca-bentrokan-dua-desa-di-solor/#sthash.tRM8fzjR.dpuf
Gubernur NTT : Konflik Terjadi Karena Perebutan Lahan
Gubernur NTT : Konflik Terjadi Karena Perebutan Lahan
KUPANG. FBC- Gubernur NTT, Frans Lebu Raya meminta, masyarakat di sekitar lokasi konflik di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan, karena masalah yang terjadi disana adalah murni karena masalah lahan yang diperebutkan oleh warga kedua desa.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. (Foto : Dokumentasi FBC)
Kepada wartawan di Kupang, Rabu (6/11), Gubernur juga mengatakan, dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Kapolda NTT, Kapolres dan Dandim Flores Timur, untuk melakukan pemantauan terhadap situasi yang berkembang di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, pasca bentrok antarwarga di wilayah tersebut.
“Sejak kemarin Pak Kapolda juga sudah mengrimkan tim untuk mem-back up Polres Flores Timur guna meredakan ketegangan antara warga desa Wulublolong dengan Desa Lohayong yang terlibat konflik karena masalah tanah,” katanya
Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima siang tadi, situasi di perbatasan antara kedua desa yang bertikai itu sudah mulai kondusif. Meski begitu, aparat keamanan masih berjaga-jaga di sekitar lokasi bentrok karena khawatir bisa timbul bentrokan susulan.
“Kepada wartawan, saya minta untuk menyajikan informasi yang menyejukkan guna menjaga harmonisasi kehidupan antarwarga yang ada di wilayah tersebut,” tambahnya.
Sebelumnya, Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede, SH, MH membenarkan peristiwa bentrokan antar warga yang merenggut tiga korban iiwa tersebut. Tiga korban jiwa itu masing-masing Yoseph Silo Wotan (70), Petro Ola Ina Koten (80) dan Veresia Bare (70).
Kapolres mengatakan, suasana di kedua desa itu sudah berhasil dikendalikan aparat keamanan sejak kemarin (Selasa, 5/11) dan sudah kondusif. Namun demikian aparat keamanan masih terus berjaga-jaga di lokasi bentrokan itu.
“Total aparat yang kita siagakan di dua desa tersebut sebanyak 203 personil terdiri dari aparat Polri sebanyak 99 orang, Brimob sebanyak 78 orang dan TNI sebanyak 26 orang. (Oni)
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/gubernur-ntt-masalah-yang-terjadi-murni-karena-masalah-lahan/#sthash.ls4dMhvV.dpuf
KUPANG. FBC- Gubernur NTT, Frans Lebu Raya meminta, masyarakat di sekitar lokasi konflik di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan, karena masalah yang terjadi disana adalah murni karena masalah lahan yang diperebutkan oleh warga kedua desa.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. (Foto : Dokumentasi FBC)
Kepada wartawan di Kupang, Rabu (6/11), Gubernur juga mengatakan, dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Kapolda NTT, Kapolres dan Dandim Flores Timur, untuk melakukan pemantauan terhadap situasi yang berkembang di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, pasca bentrok antarwarga di wilayah tersebut.
“Sejak kemarin Pak Kapolda juga sudah mengrimkan tim untuk mem-back up Polres Flores Timur guna meredakan ketegangan antara warga desa Wulublolong dengan Desa Lohayong yang terlibat konflik karena masalah tanah,” katanya
Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima siang tadi, situasi di perbatasan antara kedua desa yang bertikai itu sudah mulai kondusif. Meski begitu, aparat keamanan masih berjaga-jaga di sekitar lokasi bentrok karena khawatir bisa timbul bentrokan susulan.
“Kepada wartawan, saya minta untuk menyajikan informasi yang menyejukkan guna menjaga harmonisasi kehidupan antarwarga yang ada di wilayah tersebut,” tambahnya.
Sebelumnya, Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede, SH, MH membenarkan peristiwa bentrokan antar warga yang merenggut tiga korban iiwa tersebut. Tiga korban jiwa itu masing-masing Yoseph Silo Wotan (70), Petro Ola Ina Koten (80) dan Veresia Bare (70).
Kapolres mengatakan, suasana di kedua desa itu sudah berhasil dikendalikan aparat keamanan sejak kemarin (Selasa, 5/11) dan sudah kondusif. Namun demikian aparat keamanan masih terus berjaga-jaga di lokasi bentrokan itu.
“Total aparat yang kita siagakan di dua desa tersebut sebanyak 203 personil terdiri dari aparat Polri sebanyak 99 orang, Brimob sebanyak 78 orang dan TNI sebanyak 26 orang. (Oni)
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/gubernur-ntt-masalah-yang-terjadi-murni-karena-masalah-lahan/#sthash.ls4dMhvV.dpuf
Korban Solor Timur Dimakamkan | SERGAP NTT [Media Revolusi]
Korban Solor Timur Dimakamkan | SERGAP NTT [Media Revolusi]
sergapntt.com, KUPANG – Tiga jenazah korban bentrokan antara Desa Lohayong dan Wulublolong di Kecamatan Solor Timur, yakni Yoseph Sino Wotan, Olina Buron dan Barek Menepalolon, hari ini, Rabu, 6 November 2013 dimakamkan.
Wakil Bupati Flores Timur, Valens Tupen, mengatakan, tiga korban itu dimakamkan di kampung mereka masing-masing.
Dalam bentrok yang terjadi sejak Senin hingga Selasa kemarin, selain tiga nyawa melayang, satu mengalami luka parah, yakni PetrusWotan dan 131 rumah dibakar serta 112 kepala keluarga terpaksa mengungsi.
Valens mengatakan, setelah situasi aman, pihaknya akan segera mendamaikan kedua pihak, sekaligus menyelesaikan penyebab bentrok. “Aman dulu baru kami akan bahas soal sengketa perbatasan kedua desa itu,” katanya.
Kapolda NTT, Brigadir Jenderal Untung Yoga Ana, menjelaskan, polisi makin memperketat pengamanan di lokasi bentrokan untuk mengantisipasi bentrokan susulan. “Hari ini pemakaman korban bentrokan,” ujarnya.
By. Lips/Jos
sergapntt.com, KUPANG – Tiga jenazah korban bentrokan antara Desa Lohayong dan Wulublolong di Kecamatan Solor Timur, yakni Yoseph Sino Wotan, Olina Buron dan Barek Menepalolon, hari ini, Rabu, 6 November 2013 dimakamkan.
Wakil Bupati Flores Timur, Valens Tupen, mengatakan, tiga korban itu dimakamkan di kampung mereka masing-masing.
Dalam bentrok yang terjadi sejak Senin hingga Selasa kemarin, selain tiga nyawa melayang, satu mengalami luka parah, yakni PetrusWotan dan 131 rumah dibakar serta 112 kepala keluarga terpaksa mengungsi.
Valens mengatakan, setelah situasi aman, pihaknya akan segera mendamaikan kedua pihak, sekaligus menyelesaikan penyebab bentrok. “Aman dulu baru kami akan bahas soal sengketa perbatasan kedua desa itu,” katanya.
Kapolda NTT, Brigadir Jenderal Untung Yoga Ana, menjelaskan, polisi makin memperketat pengamanan di lokasi bentrokan untuk mengantisipasi bentrokan susulan. “Hari ini pemakaman korban bentrokan,” ujarnya.
By. Lips/Jos
Subscribe to:
Posts (Atom)