Sunday, December 1, 2013

Forum Komunitas Adat Bantu Atasi Konflik

Forum Komunitas Adat Bantu Atasi Konflik
LARANTUKA, FBC:Konflik lahan dalam masyarakat Flores Timur baik yang berhubungan dengan batas tanah, ataupun kepemilikan kini terus menyebar di sejumlah kampung. Konflik semacam ini seringkali terjadi karena nilai-nilai budaya dan kearifan-kearifan masyarakat adat telah luntur dan terkikis dari hari ke hari. Demikian juga persatuan dan kesaatuan dalam masyarakat perlahan mulai dikesampingkan.

Demikian salah satu point pandangan Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang disampaikan camat Kelubagolit Yos Dasi Bumi di desa Kelu Wain mewakili Bupati Flores Timur Yoseph Lagadoni Herin, pada pembukaan seminar dan sosialisasi pembentukan Komunitas Masyarakat Adat di desa Kelu Wain, Kecamatan Klubagolit, Adonara, Kamis 07 November 2013.

Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Flores Timur, dihadiri tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan para kepala Desa se-kecamatan Kelubagolit.

Kesbangpol Flores Timur dalam laporannya mengatakan, tokoh adat punya peranan yang sangat penting dalam seluruh pembangunan. Karena itu Pemda Flores Timur memandang strategis memfasilitasi terbentuknya forum komunitas adat.

Sekretaris Kesbangpol Kabupaten Flotim ibu Ati Gedeona, SH mengakui, hingga saat ini telah terbentuk 11 forum komunitas adat di 11 kecamatan dari 19 kecamatan yang direncanakan.

Identitas Lamaholot

Bernard Tukan, salah satu pembicara dalam seminar itu menegaskan, nilai-nilai budaya atau kearifan lokal penting dihidupkan kembali untuk menegaskan identitas masyarakat Lamaholot sebagai warga negara Indonesia.

Menurutunya nilai-nilai itu memberi inspirasi, motivasi dan animasi bahkan legitimasi atas kebijakan dan program pembangunan terkhusus di desa-desa di mana komunitas adat berada.

“Terhadap tuntutan semacam ini, Pemerintah Kabupaten Flores Timur perlu terus melakukan revitalisasi dan refungsionalisasi peran lembaga adat melalui upaya-upaya pemberdayaan oleh pemerintah kabupaten Flores Timur,”katanya.

Sebelumnya kepada FBC di Larantuka 06 November dalam kapasitas sebagai Sekretaris Forum Kerukunan antar Umat Beragama kabupaten Flores Timur ia mengingatkan pemerintah Flores Timur untuk tidak hanya bersifat responsif terhadap konflik-konflik yang terjadi karena masalah tanah, tetapi perlu melakukan pencegahan agar konflik tidak terjadi.

“Potensi-potensi konflik di beberapa titik telah ada. Karena itu pemda Flotim seharusnya lebih proaktif untuk melakukan pencegahan-pencegahan ketimbang konflik pecah baru melakukan tindakan,” ujarnya.

Membantu Pemerintahan Desa

Thomas Lewo, tokoh adat dari Hinga memberi catatan bahwa pembentukan lembaga adat sudah pernah dilakukan sebelumnya di berbagai tempat oleh bupati Felix Fernandez namun tidak bertahan karena motif dukungan politik sangat kuat melatarinya. “Karena itu, semuanya hilang tak berbekas,” ujarnya.

Dari kiri ke kanan, Ati Gedeona, SH, Bernard Tukan dan Yos Dasi Bumi (Foto : FBC/Melky Koli Baran)

Ia menilai, upaya-upaya yang dilakukan bupati Simon Hayon selanjutnya mulai kelihatan ada manfaatnya. Karena itu, pihaknya berpendapat bahwa pembentukan komunitas adat ini akan sangat membantu pemerintah di desa untuk memperkuat nilai-nilai adat dan budaya masyarakat.

Ester, seorang tokoh perempuan yang hadir dalam acara ini menyoroti kewibawaan lembaga pemangku adat bentukan pemerintah yang menurutnya kurang efektif mengendalikan ketertiban di komunitas-komunitas.

Ester mengemukakan realitas konflik di kecamatan itu yang tidak lepas dari sumbangan generasi muda. Menurutnya, kekacauan di komunitas-komunitas sering terjadi karena diprovokasi oleh anak-anak muda. “Mereka ini adalah salah satu kelompok strategis yang perlu pemberdayaan oleh forum komunitas adat yang akan dibentuk ini. Masalahnya, anak-anak muda sudah kurang membatinkan nilai-nilai dan budi adat Lamaholot,” katanya.

Camat Kelubagolit Yos Dasi Bumi beberapa kali dalam pembicaraannya sebagai Camat maupun mewakili bupati mengakui di kecamatan ini sering terjadi konflik. Bahkan konflik besar dan berdarah juga pernah terjadi di kecamatan ini beberapa waktu berlalu. Tanpa menyebutkan desa mana yang berkonflik, namun semua tahu bahwa Adobala dan Redontena adalah dua kampung di kecamatan ini yang berkonflik secara terbuka beberapa waktu lalu.

Memaknai sosialisasi ini, Kadar Jafar dari desa Horinara mengatakan, Forum Komunitas Adat tingkat kecamatan boleh dan perlu dibentuk. Namun kata dia, kultur dan struktur budaya di komunitas sudah baku. Karena itu mesti dilihat model pemberdayaan seperti apa yang perlu dilakukan agar semakin memperkuat apa yang telah ada.

Kata Kadar Jafar, jika pada masa pemerintahan Orde Baru terus dilakukan penjinakan terhadap elemen-elemen masyarakat sipil termasuk komunitas adat, maka saat ini yang diperlukan adalah dukungan untuk pemberdayaan.

Hal serupa disampaikan Elias Ola dari Horinara. Menurutnya, Lembaga dan pemangku-pemangku adat telah ada di desa hanya saja tidak diberikan ruang dalam penguatan masyarakat dan penyelesaian sengketa. Karena itu, dia mengharapkan forum yang dibentuk ini harus berperan memberdayakan potensi yang telah ada di desa-desa. (Melky Koli Baran)
Related Posts:

100 Rumah di Matim akan Dibedah
Petani Flores Miliki Semangat Belajar dan Kemauan Bekerja…
Forum Satu Lamaholot Tolak Usulan DOB Adonara
Warga Keluhkan Harga Minyak Tanah
Sambut Sail Komodo, Matim Kesulitan Jaringan Telkomsel





- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/forum-komunitas-adat-bantu-atasi-konflik/#sthash.cn0GgQYY.KPgY99M1.dpuf

Salestinus : Konflik Lahan, Pemerintah Dinilai Gagal


JAKARTA, FBC- Persoalan sangketa lahan yang berbuntut pada konflik dan bentrokan antara warga seperti yang terjadi di Solor, Kabupaten Flores Timur, Selasa (5/11/2013), dapat saja dicegah jika pemerintah mampu menyelesaikan persoalan sangketa tanah ini sejak dari awal termasuk menghidupkan kembali peran tokoh adat dan tokoh masyarakat yang dapat mengambil peran penyelesaian konflik. Petrus Salestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Hal ini diungkapkan Petrus Salestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), yang menghubungi FBC di Jakarta, Rabu. (6/11/3023). Menurut Saletinus, Hukum nasional dan lembaga formil negara seperti Polri dan Kejaksaan pun telah gagal mengemban misi supermasi hukum yang menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum dan aparat penegak hukum. “Konflik warga dalam perebutan lahan telah meresahkan masyarakat tanpa pemerintah dan Polri mampu menangkal dan mencegah kejadian tersebut. Pemerintah daerah dan Polri telah gagal memberikan rasa aman bagi warga,” katanya. Salestinus mengatakan, didalam masyarakat saat ini, lembaga adat juga mengalami krisis kepemimpinan informal. Masyarakat juga mengalami krisis tokoh adat sebagai simbol pemersatu masyarakat di setiap desa atau kecamatan. Dengan kejadian semacam ini, menurutnya, sudah saatnya lembaga adat dihidupkan kembali agar dapat menyelesaikan persoalan masyarakat. “Mayarakat sudah lama menyimpan konflik perebutan batas tanah. Jalan kekerasan diantara warga mestinya tidak terjadi, jika terjadi konflik atau perbedaan pendapat, lembaga adat dapat melakukan peran akomodasi, mediasi, rekonsiliasi dan rekonsolidasi antar sesama warga masyarakat,” kata Salestinus. Dikatakannya, konflik antara dua desa di Solor harus dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali lembaga adat dan refungsonalisasi peran tokoh adat sebagai pemersatu dan pendamai bagi masyarakat yang berseteru. “Kelahiran tokoh-tokoh pemersatu di setiap desa dan kecamatan sudah menjadi keharusan untuk mengembalikan rasa aman bagi warga,”katanya. Dia mengharapkan, dengan kejadian ini dapat muncul tokoh-tokoh adat di kalangan anak muda di setiap desa atau kecamatan untuk mengambil prakarsa untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai. “Pendekatan pemerintah selalu formalistik dan bersifat memaksa, sehingga tidak memungkinkan masyarakat yang bertikai dapat menerimanya secara iklas,”katanya. Selain mengharapkan peran tokoh muda dalam komunitas yang bertikai untuk mengusahkan penyelesaian konflik menuju perdamaian, dia juga mengharapkan agar adanya prakarsa dari tokoh masyarakat yang berada diluar wilayah konflik untuk mengakomodasi perselihan kedua belah pihak, memediasi dan menyelesaikan secara musyawarah. “Dengan menggunakan lembaga adat dan hukum adat setempat dapat bisa tercipta suasana saling menerima dan memberi demi kedamaian bersama. (Ben) Related Posts: Petrus Salestinus: “Hidupkan Lembaga Adat di Setiap… Forum Komunitas Adat Bantu Atasi Konflik Konflik Solor Harus Segera Diselesaikan Seruan Damai untuk Lewotana-Adonara Berlarutnya Penyelesaian Konflik Redontena-Adobala, IKWH…

Konflik Solor Harus Segera Diselesaikan

Konflik Solor Harus Segera Diselesaikan
KUPANG. FBC- Tokoh masyarakat Solor di Kupang, Syamsu Bahrini mengaku kaget mengetahui ada bentrok antara warga desa Wulublolong dan Lohayong hingga mengakibatkan tiga korban jiwa. Karena itu dia berharap semua pihak di Solor khususnya dan Flores Timur umumnya harus segera menyelesaikan masalah ini dengan arif dan bijaksana.

Syamsu: Semua Tokoh Lokal harus segera duduk bersama. (Foto: FBC: Bonne Pukan)

“Kita di Solor itu sangat akrab dari dulu sampai sekarang, Tapi kok tiba-tiba ada bentrokan itu. Kawin-mawin, persaudaraan dan kekerabatan di Solor itu sangat bagus dan terjalin selama ini tanpa membedakan suku, agama dan ras. Kita selalu hidup damai. Masalah seperti yang terjadi pada Selasa (5/11) kemarin itu tidak perlu terjadi,” kata Syamsu kepada FBC di Kupang, Jumat (8/11).

Samsu kelahiran Lohayong dan telah purna tugas di Undana Kupang namun masih menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Kupang ini mengatakan, sejak dahulu masyarakat kedua desa ini hidup rukun dan damai,

“Selama ini masyarakat kami disana sangat rukun, tetapi mengapa harus terjadi masalah yang mengorbankan tiga jiwa itu. Saya minta semua pihak di Solor untuk duduk bersama membicarakan masalah ini. Tokoh masyarakat, tokoh adat dan seluruh pemangku kepentingan disana harus secepatnya membicarakan masalah ini agar tidak berlanjut,” harapnya.

Dia menyatakan salut atas kesigapan pemerintah Kabupaten dan Provinsi yang langsung menuju lokasi untuk meredam konflik itu. Pihak keamanan juga sudah berada di lokasi sesaat setelah kejadian itu.

Menurutnya kehadiran Wakil Bupati, Valens Tukan ke Lokasi pada hari Rabu (6/11) kemudian disusul dengan kehadiran Gubernur bersama Kapolda dan Danrem Kupang pada Kamis (7/11) itu telah memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat di dua desa tersebut.

“Saya berharap, setelah kehadiran para petinggi daerah ini, tokoh-tokoh lokal harus menindaklanjutinya dengan pertemuan untuk mendekatkan kedua kelompok yang bertikai itu. Saya berharap masyarakat di kedua desa itu kembali hidup rukun dan damai seperti sebelumnya.

Untuk diketahui, bentork yang terjadi di Solor Timur itu mengakibatkan tiga korban jiwa yakni Yoseph Silo Wotan (70), Petronela Ina Koten (80) dan Theresia Barek (70). Pihak keamanan juga sudah diterjunkan ke lokasi bentrok sebanyak 203 orang terdiri dari personil Polri sebanyak 99 orang, Brimob sebanyak 78 orang dan TNI sebanyak 26 orang.

Menurut Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede, SH. MH, suasana di kedua desa itu sudah kondusif dan akan tetap terjaga. (Bonne Pukan)

Related Posts:
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/konflik-solor-harus-segera-diselesaikan/#sthash.ITyIXC0n.VUeo9rSr.dpuf

Situasi Berangsur Aman Pasca Bentrokan Warga Solor

Situasi Berangsur Aman Pasca Bentrokan Warga Solor
LARANTUKA, FBC- Situasi berangsur aman, pasca bentrokan antara warga dua desa yakni desa Wulublolong dan desa Lohayong di kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur yang terjadi sejak Senin sore (4/11/2014).

Hal ini ditegaskan Kapolres Flotim AKBP Dewa Putu Gede Artha yang disampaikan Kasubag Humas Polres Flotim, Iptu Nyoman Supartha yang ditemui floresbangkit.com di kantor Polres Flotim, kelurahan Amagarapti, Larantuka, Rabu,(06/11/2013).

Menurut Nyoman, bentrokan terjadi akibat warga desa Wulublolong pada Senin (04/11/2013) pukul 15.30 wita, mengambil batu di lokasi sengketa di desa Lohayong. Hari Selasa (05/11/2013) bentrokan kembali terjadi siang hingga sore yang mengakibatkan 100 rumah warga Wulublolong dibakar dan 3 orang meninggal. 6 orang warga desa Lohayong luka terkena panah di kaki, tangan dan di bagian dada. Dalam bentrokan ini 3 sepeda motor ikut dibakar

Sebagaimana pemberitaan floresbangkit.com sebelumnya, dari tiga korban yang meninggal yakni, Petronela Ola Ina Koten (80 tahun), Theresia Barek (70 tahun ) dan Yosef Sinu wotan (70 tahun ).

Data yang diterima FBC dari Kasubag Humas menyebutkan 2 korban wanita warga desa Wulublolong yang meninggal karena terperangkap di dalam rumah yang dibakar dan seorang pria ketika mencoba menyelamatkan diri dari desanya. Ketiga korban hari ini dimakamkan.

Sementara 6 orang warga Lohayong yang menderita luka yakni, Hasan (42 tahun), Yani Ilyas (47 tahun), dan Lukman.S (42 tahun). Korban lainnya, Faisal Hamid (18 tahun), Ahrahman Muhammad (18 tahun) serta Hasbin Mustafa (24 tahun).

Buat Blokade

Nyoman Supartha menjelaskan, aparat keamanan sejak Senin (4/11/2013) sudah diturunkan ke lokasi konflik untuk mengamankan situasi. “Aparat melakukan antisipasi dengan membuat blokade di dua desa dan perbatasan dan juga di lokasi pengungsian di dusun satu desa Wulublolong, “ ujarnya.

Ditambahkan Nyoman, sejak Selasa (05/11/2013) pasukan dari Polres Flotim diterjunkan 1 SSK ditambah BKO dari Brimob Detasemen C Maumere sebanyak 40 personil.

Kantor Polres Flores Timur di keluharan Amagarapati,Larantuka. (Foto : Dokumentasi FBC)

Hari ini, Rabu (06/11/2013), kata Nyoman, juga ditambah BKO dari Brimob Detasemen B Ende sebanyak 34 personil dan 1 pleton tentara dari Kodim 1624 Flotim.

Nyoman menyebutkan, sejak kemarin Kapolres dan Wakapolres Flotim berada di lokasi konflik memimpin langsung pengamanan. “ Masyarakat sudah disuruh pulang ke desanya masing – masing.

Kapolres Flotim sebagaimana disampaikan Nyoman, menghimbau agar masyarakat jangan terpancing isu dan bisa menahan diri sehingga keamanan bisa terjamin.

“Semoga konflik segera berakhir sehingga aktivitas bisa berjalan seperti sedia kala,“ harap Nyoman. ( Ebed )
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/situasi-berangsur-aman-pasca-bentrokan-dua-desa-di-solor/#sthash.tRM8fzjR.dpuf

Gubernur NTT : Konflik Terjadi Karena Perebutan Lahan

Gubernur NTT : Konflik Terjadi Karena Perebutan Lahan
KUPANG. FBC- Gubernur NTT, Frans Lebu Raya meminta, masyarakat di sekitar lokasi konflik di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan, karena masalah yang terjadi disana adalah murni karena masalah lahan yang diperebutkan oleh warga kedua desa.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. (Foto : Dokumentasi FBC)

Kepada wartawan di Kupang, Rabu (6/11), Gubernur juga mengatakan, dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Kapolda NTT, Kapolres dan Dandim Flores Timur, untuk melakukan pemantauan terhadap situasi yang berkembang di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, pasca bentrok antarwarga di wilayah tersebut.

“Sejak kemarin Pak Kapolda juga sudah mengrimkan tim untuk mem-back up Polres Flores Timur guna meredakan ketegangan antara warga desa Wulublolong dengan Desa Lohayong yang terlibat konflik karena masalah tanah,” katanya

Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima siang tadi, situasi di perbatasan antara kedua desa yang bertikai itu sudah mulai kondusif. Meski begitu, aparat keamanan masih berjaga-jaga di sekitar lokasi bentrok karena khawatir bisa timbul bentrokan susulan.

“Kepada wartawan, saya minta untuk menyajikan informasi yang menyejukkan guna menjaga harmonisasi kehidupan antarwarga yang ada di wilayah tersebut,” tambahnya.

Sebelumnya, Kapolres Flores Timur, AKBP Dewa Putu Gede, SH, MH membenarkan peristiwa bentrokan antar warga yang merenggut tiga korban iiwa tersebut. Tiga korban jiwa itu masing-masing Yoseph Silo Wotan (70), Petro Ola Ina Koten (80) dan Veresia Bare (70).

Kapolres mengatakan, suasana di kedua desa itu sudah berhasil dikendalikan aparat keamanan sejak kemarin (Selasa, 5/11) dan sudah kondusif. Namun demikian aparat keamanan masih terus berjaga-jaga di lokasi bentrokan itu.

“Total aparat yang kita siagakan di dua desa tersebut sebanyak 203 personil terdiri dari aparat Polri sebanyak 99 orang, Brimob sebanyak 78 orang dan TNI sebanyak 26 orang. (Oni)
- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/gubernur-ntt-masalah-yang-terjadi-murni-karena-masalah-lahan/#sthash.ls4dMhvV.dpuf

Korban Solor Timur Dimakamkan | SERGAP NTT [Media Revolusi]

Korban Solor Timur Dimakamkan | SERGAP NTT [Media Revolusi]
sergapntt.com, KUPANG – Tiga jenazah korban bentrokan antara Desa Lohayong dan Wulublolong di Kecamatan Solor Timur, yakni Yoseph Sino Wotan, Olina Buron dan Barek Menepalolon, hari ini, Rabu, 6 November 2013 dimakamkan.

Wakil Bupati Flores Timur, Valens Tupen, mengatakan, tiga korban itu dimakamkan di kampung mereka masing-masing.

Dalam bentrok yang terjadi sejak Senin hingga Selasa kemarin, selain tiga nyawa melayang, satu mengalami luka parah, yakni PetrusWotan dan 131 rumah dibakar serta 112 kepala keluarga terpaksa mengungsi.

Valens mengatakan, setelah situasi aman, pihaknya akan segera mendamaikan kedua pihak, sekaligus menyelesaikan penyebab bentrok. “Aman dulu baru kami akan bahas soal sengketa perbatasan kedua desa itu,” katanya.

Kapolda NTT, Brigadir Jenderal Untung Yoga Ana, menjelaskan, polisi makin memperketat pengamanan di lokasi bentrokan untuk mengantisipasi bentrokan susulan. “Hari ini pemakaman korban bentrokan,” ujarnya.

By. Lips/Jos

Kerusuhan di Pulau Solor, Ratusan Rumah Rusak dan Tiga Tewas

Kerusuhan di Pulau Solor, Ratusan Rumah Rusak dan Tiga Tewas
Metrotvnews.com, Lewoleba: Sebanyak 116 rumah rusak berat, tujuh orang luka berat, dan tiga tewas dalam kerusuhan antarwarga Desa Wulublolong dan Desa Lohayong, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Selasa (5/11) kemarin.

Data dihimpun Media Indonesia dari Kepolisian Resort (Polres) Flores Timur menyebutkan, ratusan rumah warga Desa Wulublolong rusak berat akibat dirusak dan dibakar Warga Desa Lohayong.

"Jumlah rumah rusak berat milik warga Desa Wulungblolong 116 buah, dengan rincian, 11 rumah permanen, 80 rumah semi permanen, 25 rumah darurat," ujar Wento, staf Humas Polres Flotim, Kamis (7/11).

Korban luka-luka ada tujuh orang, yakni empat orang dari pihak Desa Lohayong dan tiga korban warga Desa Wulublolong.

Korban asal Desa Lohayong antara lain, Lukman Sangaji, 45. Lukman terkena anak panah yang menancap di pantat sebelah kiri. Faisal Hamid, 19, terkena panah di betis kanan, Abdu Rahman, 18, terkena panah di tangan kiri, Hasbih 23, terkena panah pada pergelangan kaki kanan.

Sementara itu, korban dari Desa Wulublolong adalah Arnoldus Kopong, 45, terkena lemparan batu di dada, Hendrikus Sira, 35, kena panah pada kaki kiri, Petrus Wotan, 63, dibacok di punggung.

Korban meninggal dunia tiga orang, yakni Yosep Sinowotan, 70, asal desa Wulublolong, Petronela Inakoten, 80, asal Wulublolong, terbakar di dalam rumahnya, Teresia Bare, 70, asal Desa Wulublolong.

Hingga hari ini, Kamis (7/11), situasi di Pulau Solor relatif kondusif. Dua pleton Brimob dari Kota Maumere, berikut dua pleton anggota Sabhara, Mapolres Flotim disiagakan di lokasi bentrok. (Alexander P Taum)

Editor: Irvan Sihombing

Bentrokan Antar Desa di NTT, Tiga Tewas


TEMPO.CO, Kupang--Sel, 5 Nov 2013. Jumlah korban tewas akibat bentrokan antarwarga Desa Desa Lahayong dan Desa Wulublolong di Kecamatan Solor Timur, Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi tiga orang. "Sudah tiga orang tewas akibat bentrokan antarwarga di Solor itu," kata Lorens Tukan, warga Flores Timur yang dihubungi Tempo, Selasa, 5 November 2013. Pada bentrokan yang pecah siang tadi seorang warga tewas terkena anak panah yakni Sino Watun. Sedangkan, dua korban lainnya ditemukan tewas, setelah pecah bentrokan susulan. Salah satu diantatnya yakni seorang nenek yang terbakar, dalam rumahnya yang dibakar warga yang bertikai. "Ada satu orang nenek yang terbakar dalam rumahnya," katanya. Korban luka juga bertambah menjadi tujuh orang dari sebelumnya hanya tiga orang akibat terkena panah. Dan, jumlah rumah yang dibakar warga yang bertikai sebanyak 131 ruamh. "Tujuh orang luka dan 131 rumah dibakar," katanya. Bentrokan antarwarga dua desa ini dipicu masalah tanah yang berbatasan antardua desa tersebut. Situasi di lokasi bentrokan masih mencekam. YOHANES SEO

Abu Jasad Nenek Yang Dibakar Diserahkan Polisi ke Keluarga | SERGAP NTT [Media Revolusi]

Abu Jasad Nenek Yang Dibakar Diserahkan Polisi ke Keluarga | SERGAP NTT [Media Revolusi]
sergapntt.com, SOLOR – Jasad seorang nenek warga Desa Wulublolong yang dibakar warga Desa Lohayong bersama pondoknya telah diserahkan polisi ke keluarganya untuk dimakamkan.

Nenek berusia 67 tahun yang biasa dipanggil Ina itu menjadi korban kebrutalan warga Lohayong saat bentrok melawan warga Wulublolong terkait masalah tanah pondok pesantren.

Informasi yang dihimpun, saat diserang dan pondoknya dibakar, nenek tersebut sedang tidur. Ia sempat berteriak meminta tolong beberapa kali saat abi mulai membesar. Namun para pelaku tak menggubris.

Setelah warga Lohayong pulang, jasad nenek itu ditemukan sudah menjadi abu. Warga yang dikawal polisi lantas mengumpul abu sang nenek lalu menyerahkan ke keluarga. BACA JUGA: Bentrokan Di Solor, Korban Tewas Bertambah

Bentrok Antarwarga di Pulau Solor, Satu Tewas

Bentrok Antarwarga di Pulau Solor, Satu Tewas
Metrotvnews.com, Kupang: Bentrokan terkait perebutan tanah meletus di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (5/11) sekitar pukul
09.30 Wita.

Bentrokan tersebut terjadi antara warga Desa Lahayong melawan warga Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur (Pulau Adonara). Peristiwa itu mengakibatkan satu orang tewas dan tiga orang lainnya luka akibat terkena panah.

Korban tewas bernama Sino Wotan, warga Desa Wulublolong, sedangkan tiga korban yang terkena panah berasal dari Desa Lahayong. Anggota DPRD Flores Timur Safrudin Abas yang dihubungi di lokasi kejadian mengatakan perebutan tanah oleh warga dua desa tersebut pernah terjadi pada 1970-an.

"Sekarang bentrokan pecah lagi," katanya. Namun ia mengaku belum mengatahui akar persoalan yang kemudian memicu warga kedua desa itu kembali terlibat bentrokan.

Menurutnya, sampai pukul 13.30 situasi di lokasi bentrokan masih mencekam karena warga yang mempersenjatai diri dengan tombak, panah, dan parang, masih bersiaga.

Aparat keamanan dari Polres Flores Timur telah diterjunkan ke lokasi bentrokan, namun belum bisa berbuat banyak karena warga masih marah dan bertahan untuk bersiap-siap saling menyerang kembali. (Palce Amalo)


Editor: Patna Budi Utami

Perempuan Dibakar Bersama Rumahnya dalam Bentrok di NTT

Perempuan Dibakar Bersama Rumahnya dalam Bentrok di NTT
Metrotvnews.com, Kupang: Seorang perempuan yang belum diketahui identitasnya dibakar bersama rumahnya di Desa Wuloblolong, Kecamatan Solor Timur (Pulau Adonara), Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Pembakaran dilakukan oleh warga Desa Lahayong saat menyerang wilayah itu pada Selasa (5/11). "Satu perempuan ditemukan dalam puing-puing rumah yang terbakar di Desa Wulublolong," kata anggota DPRD Flores Timur Safruddin Abas yang dihubungi, Rabu (6/11).

Dengan ditemukannya jenazah perempuan tersebut, korban tewas dalam bentrokan terkait perebutan lahan antara warga Desa Lahayong dan Wuloblolong yang pecah sejak Senin (4/11) sampai Selasa (5/11) menjadi dua orang. Sementara itu, korban luka tercatat empat orang.

Dari empat korban luka, satu di antaranya warga Desa Wulublolong bernama Petrus Suku Wotan. Ia luka parah di perut akibat sabetan senjata tajam. Tiga korban lainnya warga Desa Lahayong terkena anak panah.

Menurut Safruddin, perempuan yang hangus bersama rumahnya kemungkinan tidak turut mengungsi bersama warga lainnya saat terjadi bentrok, sehingga saat penyerang tiba ia tidak bisa berbuat apa-apa dan terbakar bersama rumahnya. Sedangkan warga lainnya mengungsi sebelum wilayah mereka diserang.

Ia mengatakan jenazah perempuan tersebut telah dievakuasi oleh aparat Brimob dan Polres Flores Timur serta aparat TNI. Situasi di lokasi bentrokan dikabarkan telah kondusif, namun aparat keamanan tetap berjaga-jaga. (Palce Amalo)

Editor: Patna Budi Utami

Jenazah Korban Bentrokan di Pulau Solor Disandera

Jenazah Korban Bentrokan di Pulau Solor Disandera
Metrotvnews.com, Kupang: Jenazah Sino Wotan, salah satu korban bentrokan di Pulau Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, belum bisa diambil keluarganya karena disandera oleh warga.

Jenazah disandera oleh warga Desa Lahayong sejak Selasa (5/11) pagi dan hingga pukul 15.00 Wita belum diserahkan untuk dibawa pulang ke Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur.

"Saat terjadi bentrokan, warga dua desa ini berhadap-hadapan saling memanah dan membacok. Setelah Sino tewas, jenazahnya langsung dibawa ke Lahayong," kata anggota DPRD Flores Timur Safruddin Abas.

Ia mengatakan, jenazah kemungkinan belum bisa diambil karena warga Desa Wulublolong telah mengungsi. Sino tewas dengan luka bacok di leher dan mulut. Sedangkan tiga korban luka lainnya asal Desa Lahayong yang terkena panah di kaki telah dievakuasi ke Puskesmas Solor Timur.

Bentrokan terkait perebutan tanah antara warga Desa Lahayong dan warga Desa Wulublolong, Kecamatan Solor Timur, terjadi sekitar pukul 09.30. Bentrok susulan terjadi pada pukul 14.00, dan warga membakar sejumlah rumah. (Palce Amalo)



Editor: Patna Budi Utami

Konflik Tanah di Solor Timur: Rumah yang Dibakar Ternyata 136 Unit


Laporan Wartawan Pos Kupang, Sarifah Sifah POS KUPANG.COM, LARANTUKA -- Rumah yang dibakar dalam konflik tanah di Solor Timur, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Senin (4/11) dan Selasa (5/11/2013), ternyata mencapai 136 unit setelah tim Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Flotim melakukan pendataan ulang di lapangan. Dari jumlah ini, 117 unit milik warga Desa Wungublolon, 19 unit lainnya milik warga Desa Lehayong. Sementara korban tewas bertambah menjadi tiga orang, yakni Yoseph S Wotan (70), Petronela Ola Ina (70) dan Theresia Benga (70). Wotan tewas saat warga saling serang, sedang Petronela dan Theresia tewas karena terjebak api. Tujuh korban lainnya menderita luka-luka. "Dua mama yang meninggal itu karena terjebak api. Mama Petronela karena lumpuh, tidak bisa lari, sedangkan mama Theresia sempat lari ke luar rumah, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan," kata Paulus Igo Geroda, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Flotim, ketika dihubungi, Rabu (6/11/2013). Tentang korban luka-luka, diakui Paulus, sudah mendapat pertolongan dari para medis. Pemkab Flotim, diakui Paulus, telah mengirim bantuan darurat berupa tenda hunian, beras 2,3 ton, satu karung pakaian seragam siswa SD, telur 30 ikat, air mineral 50 dos, sabun cuci, sabun mandi, odol dan sejumlah bantuan lainnya. "Bantuan itu dimobilisasi KM Cahaya Welang," ujarnya.* Baca Juga Solor Berdarah, Dua Tewas, 98 Rumah Dibakar Editor: alfred_dama Sumber: Pos Kupang

Bentrok di Pulau Solor Terus Berlangsung, Puluhan Rumah Dibakar

Bentrok di Pulau Solor Terus Berlangsung, Puluhan Rumah Dibakar
Metrotvnews.com, Kupang: Bentrok antara warga Desa Lahayong dan Wulublolong di Kecamatan Solor Timur (Pulau Solor), Nusa Tenggara Timur, terjadi lagi, Selasa (5/11) sekitar pukul 14.00 Wita.

Bentrokan sebelumnya terjadi sekitar pukul 09.30 yang mengakibatkan satu orang tewas dan tiga orang lainnya luka akibat terkena anak panah.

Anggota DPRD Flores Timur Safruddin Abas yang dihubungi di lokasi kejadian menyebutkan ratusan warga Desa Lahayong bersenjatakan panah dan parang menyerang warga Desa Wulublolong.

Mereka juga membakar rumah warga yang telah ditinggalkan penghuninya untuk mengungsi. "Puluhan rumah di satu dusun telah dibakar, sekarang warga menyeberang ke dusun lainnya untuk melanjutkan pembakaran," ujarnya.

Bentrok susulan ini tidak menimbulkan korban jiwa karena seluruh warga Lahayong sudah meninggalkan desa mereka.

Aksi pembakaran rumah, menurut Safruddin, tidak dapat dicegah karena aparat keamanan yang sebelumnya berjaga-jaga di lokasi bentrokan, sudah tidak terlihat lagi. "Sebelumnya ada aparat keamanan, tetapi tidak terlihat saat terjadi pembakaran rumah," katanya.

Kapolda Nusa Tenggara Timur Brigjen Untung Yoga mengatakan pihaknya telah mengerahkan aparat keamanan dari Polres Flores Timur ke lokasi bentrok satu hari sebelumnya untuk mengamankan wilayah itu. Oleh karena itu ia membantah pernyataan tidak ada petugas di lapangan.

"Saat ini personel Brimob sedang dalam perjalanan ke lokasi bentrokan," katanya kepada Media Indonesia. (Palce Amalo)

Editor: Patna Budi Utami

DPRD Flotim Sesalkan Kepergian Bupati Yosni

DPRD Flotim Sesalkan Kepergian Bupati Yosni
KUPANG. FBC- Ketua DPRD Flores Timur, Marius Payong Patty sangat menyesalkan kepergian Bupati Flotim, Yoseph Lagadoni Herin alias Yosni Herin ke luar negeri, padahal ada sejumlah agenda penting yang harus diselesaikan terutama pembahasan dan penetapan APBD Perubahan 2013.

Ketua DPRD Flotim, Marius Payong Patty

Marius yang dihubungi floresbangkit.com dari Kupang, Sabtu (9/11) menjelaskan, pekan lalu ketika ada informasi bahwa Bupati Yosni Herin akan ke Australia, dia meminta wakil Ketua DPRD Flotim, Anton Gege Hadjon untuk menyampaikan kepada Bupati bahwa rencana ke Australia itu ditunda dulu karena agenda penting yang harus diselesaikan adalah pembahasan dan penetapan APBD Perubahan tahun 2013 yang sangat penting untuk masyarakat Flotim.

“Saya dapat informasi dari pak Anton, kalau dia sudah sms bupati namun bupati tidak membalas sms tersebut. Kami memang tidak bisa berbuat apa-apa kalau Bupati memang tetap bepergian sesuai rencananya,” kata Marius.

Marius mengakui, ternyata saat Bupati keluar dari Flotim menuju Australia, ada kejadian di Solor berupa bentrokan antar warga desa Wulublolon dan warga desa Lohayong.

“Kita tidak persoalkan perjalanan Bupati ke luar negeri itu, tetapi yang kita persoalkan adalah kepergiannya tanpa memberitahukan kepada Dewan yang saat itu sedang membahas Perubahan APBD Flotim tahun 2013. Kita saling membutuhkan untuk pembahasan APBD perubahan itu, karena ini demi kepentingan masyarakat Flotim seluruhnya,” kata Marius.

Terkait bentrokan di Solor Timur, Marius mengakui, saat kejadian itu dia langsung mengutus tim dari DPRD Flotim untuk turun langsung ke lokasi untuk memantau situasi disana dan berusaha mempertemukan sejumlah tokoh lokal disana agar masalah ini bisa diredam secepatnya.

“Saya langsung turunkan tim dari anggota dewan ke Solor. Mereka turun ke lokasi benrokan untuk menenangkan warga terutama bertemu dengan sejumlah tokoh penting agar bersma-sama mencari jalan terbaik dalam penyelesaian masalah itu,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, peristiwa bentrokan antar warga desa Lohayong dan Wulublolon pada Selasa (5/11) itu akhirnya merenggut tiga korban jiwa. Tiga korban jiwa itu masing-masing Yoseph Silo Wotan (70), Petro Ola Ina Koten (80) dan Veresia Bare (70). Selain tiga orang tewas, ratusan rumah warga di dua desa itu ludes terbakar dan tujuh orang lainnya mengalami luka. (Oni)
Related Posts:

Flores Provinsi Harus Tetap Menjadi Perjuangan Bersama
Tiga Ketua DPRD di Flores Bicara Provinsi Flores
Konflik Solor- Aparat Masih Berjaga di Lokasi Bentrok
Bentrok di Solor Tiga Tewas
Gubernur dan Kapolda Tinjau Konflik Lahan Solor





- See more at: http://www.floresbangkit.com/2013/11/dprd-flotim-sesalkan-kepergian-bupati-yosni/#sthash.1TP1hPNT.YYOSFmvZ.dpuf

AMPERA Tuding Bupati Flotim Tak Responsif


POS-KUPANG.COM, KUPANG, PK -- Senin, 11 November 2013 08:28 WITA Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (AMPERA) Flores Timur (Flotim) menuding Bupati Flores Timur (Flotim), Yoseph Lagadoni Herin, S.Sos tidak responsif terhadap konflik yang terjadi di Solor. Bupati Yosni terkesan melakukan pembiaran terhadap konflik yang terjadi. Tudingan itu disampaikan AMPERA, dalam pernyataan sikapnya yang diterima Pos Kupang di Kupang, Minggu (10/11/2013) sore. Salah satu isi pernyataan sikap yang ditandatangani Ketua AMPERA, FX Arihala Werang dan Sekretaris, Valentinus T Thaby ini, adalah meminta Bupati Yosni mundur dari jabatannya sebagai bupati. "Meminta Bupati Flotim Yoseph Lagadoni Herin mengundurkan diri dari jabatannya karena bupati tidak responsif terhadap situasi dan kondisi konflik yang terjadi di Solor. Bupati seolah-olah melakukan pembiaran dan masa bodoh terhadap konflik yang terjadi," demikian pernyataan sikap itu. Selanjutnya, AMPERA meminta aparat keamanan menangkap oknum-oknum yang memprovokasi masyarakat dengan isu SARA sehingga menimbulkan konflik. Pihak keamanan juga diminta tetap siaga di lokasi sampai kondisi di wilayah itu benar-benar aman. AMPERA juga meminta tokoh agama dan tokoh adat untuk segera melakukan mediasi guna menyelesaikan konflik diantara kedua pihak. Meminta pemerintah kabupaten Flotim dan Propinsi NTT memberikan bantuan kepada korban konflik yang kehilangan tempat tinggal. "Meminta dukungan masyarakat NTT berupa uluran tangan dalam membantu korban konflik perang tanding melalui aksi penggalangan dana oleh AMPERA dan Forum Mahasiswa Peduli Tragedi (Formapadi) Solor yang akan segera dilakukan hingga 15 November mendatang," demikian AMPERA. Editor: omdsmy_novemy_leo Sumber: Pos Kupang

Gubernur dan Kapolda Ajak Warga Lohayong – Wulublolong Berdamai


LARANTUKA, SUARAFLORES.com, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs, Frans Lebu Raya bersama Kapolda NTT, Brigjen Pol, I Ketut Untung Yoga Ana, Kamis (7/11) siang tadi, memantau situasi dan kondisi terakhir pasca bentrok berdarah antara warga Lohayong dan Wulublolong, di Kecamatan Solor Timur. Dalam kunjungannya, Lebu Raya mendorong agar warga kedua kampung berdamai dan menyelesaikan masalah dengan musyawarah mufakat, serta berjanji membangun kembali rumah yang dibakar. “Saya ajak semua warga kembali berdamai dan menyelesaikan masalah ini dengan musyawarah dan mufakat. Saya akan berkoordinasi untuk mencari solusi membangun kembali rumah-rumah yang terbakar,”kata Lebu Raya dalam pertemuan dengan para tokoh setempat. Sementara itu, Kapolda NTT, Brigjen Pol, I Ketut Untung Yoga Ana, kepada suaraflores.com, mengatakan, pihaknya turun ke TKP bersama Gubernur NTT untuk memberikan himbauan dan penegasan agar kedua belah pihak yang bertikai menahan diri dan tidak mengulangi lagi bentrok yang sudah menelan korban jiwa serta menyebabkan kerugian materi. “Kami datang melihat langsung lokasi bentrok untuk menghimbau kedua belah pihak tidak lagi ulangi bentrokan yang sudah menelan korban jiwa dan mengakibatkan ratusan harta benda terbakar,”terang Yoga Ana melalu ponselnya, sembari menambahkan bahwa situasi terakhir di Solor Timur sudah kembali kondusif dan terkendali. Sebelumnya, Rabu (6/11), Gubernur Lebu Raya, meminta warga desa Lohayong dan Wulublolong yang terlibat bentrok, agar tidak lagi terpancing dengan berbagai isu yang menyesatkan. (Ak-1/sf)

Kakankemenag Flotim Pantau Langsung Lokasi Kerusuhan Di Kecamatan Solor Timur Flotim


Larantuka (Inmas). Minggu, 10 November 2013 – Setelah terus melakukan koordinasi dengan semua pihak baik Kepala KUA Kecamatan Solor Timur Kab. Flotim, Kepala MTs.N Lohayong, Pihak Kepolisian, Camat Solor Timur, Ketua FKUB Kab. Flores Timur, Guru Agama Katolik serta tokoh umat baik dari Muslim maupun Katolik pada saat dan pasca kejadian kerusuhan antar dua kampung di Kecamatan Solor Timur yakni Desa Lohayong II dan Desa Wulublolong, Jumad, 08/11 Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Petrus Pedo Beke, S.Ag turun memantau langsung kondisi terakhir di dua wilayah konflik tersebut. Tepat jam 06.00 pagi rombongan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Flotim yang terdiri dari Kepala Seksi Urakat, Aloysius Bebe Aran, Kepala Seksi Pendidikan Islam Drs. H. Ibrahim Arif, Staf Inmas Kemenag Flotim, Petrus Wai Leton, S.Sos bersama Abuyajid Damanhuri dan Agustinus Joseph Pello berangkat dari Pelabuhan Larantuka menggunakan Kapal Motor menuju Desa Lohayong II. Sebelum memantau segala kerusakan di dua wilayah tersebut, Kepala Kantor menyelenggarakan pertemuan dengan jajaran Pendidikan Islam, tokoh umat dan tokoh masyarakat di Desa Lohayong dengan tujuan untuk memberi motivasi dan peneguhan serta kekuatan kepada masayarakat dan menghimbau agar masyarakat umum dan jajaran pendidikan untuk hidup tenang dan aman serta tidak terprovokasi dengan keadaan ini. “Misi kerukunan menjadi tanggung jawab pemerintah, masyarakat dan komunitas madarasah, dan pembinaan kerukunan menjadi tanggung jawab Kementarian Agama. Olehnya kepada segenap masyarakat umat beragama untuk tetap menjaga keharmonisan dan ikut bertanggung jawab dalam menghadapi krisis ini”, katanya. Di hadapan para guru Madarasah dan tokoh umat yang hadir beliau mengharapkan agar secara bersama memberi pemahaman kepada masyarakat luas agar tidak menimbulkan rasa benci dan dendam. Sehingga para guru harus menjadi contoh dalam sikap dan perbuatan di tengah masyarakat sesuai pesan-pesan suci Al’Quran untuk perdamaian karena semua kita bersaudara dalam suasana keharmonisan. Beliau juga menekankan tentang pentingnya FKUB serta visi dan misi Kementerian Agama dalam membina kerukunan umat beragama di wilayah ini dalam setiap kesempatan yang sudah dibangun bersama dalam berbagai dialog yang sudah dilakukan menjadi keharusan kita untuk menjaga situasi aman, damai dan rukun. Selanjutnya Bapak Pet memantau segala kerusakan di desa Lohayong dan dilanjutkan ke desa Wulublolong. Di desa ini beliau menyempatkan diri untuk bertemu dengan para korban yang ditampung di Gereja Stasi Wulublolong, Ketua Dewan Stasi dan Kepala Desa Wulublolong. Kepada korban dan masyarakat di desa tersebut, beliau menghimbau dan mengharapkan untuk senantiasa menjaga situasi yang aman dan damai. “kita jangan mudah terprovokasi dengan tindakan dan isu yang dibuat oleh orang lain. Mari kita bersabar dan selalu berdoa sehingga masa-masa sulit ini segera berlalu dan kita kembali kepada kehidupan yang aman dan damai dengan sesama saudara kita”, katanya memberi semangat. Beliau juga menyempatkan diri untuk bertemu Kepala Desa Wulublolong di Kantor Desa serta memberi penghormatan dan berdoa di atas makam tiga korban jiwa yang meninggal dunia yang sudah dikebumikan pada hari Rabu (06/11/2013). Dari hasil pantauan tersebut berhasil mendapatkan informasi riil tentang kerusakan dan korban dalam kerusuhan yang terjadi pada tanggal 04 dan 05 Nopember 2013 yakni : terdapat 124 buah rumah di Desa Wulublolong dan 17 rumah di Desa Lohayong terbakar. Dalam peristiwa tersebut tidak satu pun bangunan umum berupa rumah ibadah maupun sekolah yang dibakar, termasuk Mushallah Al-Furgan di Dusun I Kebang Desa Lohayong II. Dari data kerusakan tersebut terdapat satu unit rumah milik guru MIN Lohayong atas nama Kasim Doni dan beberapa rumah siswa/i MIN Lohayong ( 25 siswa) dan MA Gewayantanah Lohayong (3 siswa) baik yang berdomisili di Desa Lohayong maupun di Desa Wulublolong. Sedangkan korban meninggal dunia ada (tiga) orang satu laki-laki dan dua perempuan dari Desa Wulublolong. Sementara korban luka ada 6 orang dari Desa Lohayong II dan 5 orang dari Desa Wulublolong. Untuk diketahui peristiwa kerusuhan yang terjadi di Kecamatan Solor Timur berawal dari pengambilan batu di lokasi tanah yang rencananya dibangun “Pesantren” oleh salah satu oknum dari masyarakat Desa Wulublolong kemudian ditegur oleh oknum masyarakat Desa Lohayong II yang terjadi pada hari Senin, 04 Nopember 2013 pagi sehingga terjadi pertengkaran kemudian difasilitasi oleh pihak keamanan dan sudah berdamai. Namun di sore harinya sekitar pukul 15.30 terjadi penyerangan kembali oleh masyarakat Desa Wulublolong ke Desa Lohayong II (Dusun I Kebang) dan membakar dua rumah kemudian langsung ditangani oleh pihak keamanan di lokasi kejadian. Pada hari Selasa tanggal 05 Nopember 2013 sekitar Pukul 06.30 saat pihak keamanan kembali ke Posko ( Kantor Polsek Menanga Kecamatan Solor Timur), tiba-tiba terjadi serangan oleh masyarakat Desa Wulublolong dan membakar 17 (tujuh belas) rumah yang berada di Dusun I (Kebang) Desa Lohayong II. Setelah itu saling serang dan membakarpun terjadi sehingga mengakibatkan 124 rumah warga Desa Wulublolong terbakar serta korban jiwa dan korban luka. (***peter) www.kemenag.go.id

Kapolres Flotim Didesak Usut Tuntas Kasus Solor Berdarah | SERGAP NTT [Media Revolusi]

Kapolres Flotim Didesak Usut Tuntas Kasus Solor Berdarah | SERGAP NTT [Media Revolusi]
sergapntt.com, LARANTUKA – Forum Gerakan Rakyat Anti Korupsi (Gertak) Kabupaten Flores Timur (Flotim) mendesak Kapolres Flotim AKBP. Dewa Putu Gede Artha untuk lebih serius mengusut kasus bentrokan antara warga Desa Lohayong vs Wulublolong yang mengakibatkan 3 nyawa melayang.

Desakan tersebut disampaikan Koordinator Gertak, Kanisius Ratu Soge, saat Gertak menggelar aksi demo di Mapolres Flotim, Senin (25/11/13).

Kanisius juga meminta Kapolres untuk segera menindak para pelaku dalam kasus solor berdarah itu.

Sementara itu, Dewa Putu Gede Artha, mengatakan, sejauh ini polisi sudah menahan dua warga Wulublolong.

”Kedua oknum warga itu punya andil dalam kasus pembakaran rumah di wilayah Keba (Lohayong). Konsentraasi kini diarahkan pada kasus pembunuhan dan pembakaran rumah penduduk desa Wulublolong serta aksi kriminalitas lainnya dalam peristiwa tersebut,” tegasnya.

By. Eman Niron

Korban Tewas Kasus Solor Hanya Dibungkus Tikar | SERGAP NTT [Media Revolusi]

Korban Tewas Kasus Solor Hanya Dibungkus Tikar | SERGAP NTT [Media Revolusi]
sergapntt.com, SOLOR – Sino Wotan, salah satu korban tewas akibat bacokan parang saat terjadi bentrok antara warga Desa Lahayong versus Desa Wulublolong hanya dibungkus tikar saat diserahkan polisi ke keluarganya.

Bentrok dua desa bertetangga itu bermula pada Senin (4/11/13) pagi. Ketika kerja bakti, tanpa ijin, beberapa warga Wuloblolong mengambil batu yang telah lama dikumpulkan warga Lohayong (Keba’hn). Mengetahui itu, warga Keba’hn –Lohayong menjadi marah. Sebab, batu tersebut dikumpulkan untuk membangun pondok pesantren. Persoalan batu itu kemudian merembet ke soal sengketa lokasi pondok pesantren. Warga Wulublolong klaim lokasi tersebut adalah milik mereka, demikian juga dengan warga Lohayong. Namun hari itu berhasil dilerai aparat polisi dan TNI.

Namun keesokan harinya, Selasa (5/11/13) pagi , tiba-tiba warga Wulublolong menyerang warga Lohayong. Sino Wotan yang berada di lokasi penyerangan tak bisa menghindar. Lehernya tertebas parang. Sementara Petrus Wotan, saudara Sino Wotan mengalami luka berat. BACA JUGA : Penyebab Bentrokan Di Solor

By. Lips/Eman Niron